Al-Kalimah dalam Bahasa Arab: Kata atau Kalimat?


Pembelajar Ilmu Nahw (Gramatikal Bahasa Arab) insyaAllah sudah tidak asing dengan istilah “al-kalimah”. Kata yang biasanya kita pelajari pertama kali ini menyita perhatian kita, karena kemiripannya dengan apa yang ada di dalam bahasa kita. Sebagian menafsirkannya sebagai “kalimat” yang dalam bahasa kita terdiri dari minimalnya subjek dan objek, seperti “Saya menulis”. Sebagian yang lain menafsirkannya sebagai “kata”, seperti “saya” dan “menulis”. Lalu dalam literatur islam, mana yang benar?

Dalam Syarh Qathr An-Nada, karya Al-‘Allamah Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa al-kalimah memiliki 2 pengertian: secara bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi).

Pengertian Kalimah secara Etimologi/ Bahasa

Secara etimologi, al-kalimah adalah kalimat yang memberikan faedah (al-jumal al-mufidah). Dari sini, kita bisa memahami firman Allah Ta’ala:

كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.”

Kalimah di ayat Allah tersebut mengindikasikan pada perkataan orang-orang kafir yang dimulai dari ayat sebelumnya:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Cermati, bagaimana perkataan mereka “Ya Tuhanku … aku tinggalkan” disebut dengan kalimah. Inilah maksud dari kalimah secara etimologi.

Pengertian Kalimah secara Terminologi/ Istilah.

Adapun secara terminologi kalimah adalah qaul mufrod. Untuk mengenal apa itu kalimah dalam perspektif para Ulama Nahw ini, perlu kita pahami masing-masing maksud dari kata qaul dan mufrod.

Pengertian Qaul

Qaul adalah lafzh (lafal) yang menunjukkan terhadap makna. Lafal itu sendiri pengertiannya adalah suara yang mengandung sebagian dari huruf. Artinya, tulisan dan isyarat tidak bisa dikatakan lafzh, karena keduanya bukan suara. Lalu, lafal ini mencakup yang mempunyai makna, seperti Zaid (زيد), dan mencakup juga yang tidak memiliki makna, seperti Daiz (ديز). Itu artinya, pemilihan diksi qaul ini lebih khusus dari lafzh (lafal), karena setiap qaul itu lafzh seperti pada kata zaid tapi tidak setiap lafzh itu qaul seperti pada kata daiz.

Pengertian Mufrod

Lalu, mufrod. Mufrod di bab ini (kalam) adalah apa yang dibahas di Ilmu Mantiq (logika) yaitu sesuatu yang sebagiannya (lafalnya) tidak merepresentasikan sebagian dari maknanya. Misalnya kata zaid (زيد), kata ini terdiri dari 3 huruf: zay, ya dan dal. Pertanyannya, apakah zay itu menunjukkan makna sebagian dari makna zaid, kepalanya misalnya? atau ya merepresentasikan tangannya? atau dal itu mengisyaratkan kakinya? Big No. Berbeda dengan misalnya, (رامِي الحِجارَة) yang artinya pelempar batu. Susunan kata ini terdiri dari bagian-bagian yang dimana masing-masing dari bagian lafal ini menunjukkan sebagian dari maknanya, dimana bagian (رامِي) yang artinya pelempar adalah bagian dari keutuhan susunan kata itu, begitu pula kata (الحِجارَة) yang artinya batu. Lawan dari mufrod ini disebut dengan murokkab.1

Ketika 2 hal ini bergabung pada suatu kata, maka kata itu disebut dengan kalimah. Contohnya, kata (زيد) yang sudah kita bahas. Contoh yang lain kata (قَرَأَ) yang artinya membaca. Kata ini sebuah qaul karena ia adalah suara yang mengandung dari sebagian dari huruf lagi memiliki makna, dan juga mufrod karena sebagian dari lafalnya tidak merepresentasikan dari sebagian maknanya.

Kesimpulannya, kalimah dalam Bahasa Arab bisa diartikan sebagai kata jika dibawa pada pengertian etimologinya dan bisa diartikan kalimat jika dibawa pada pengertian terminologinya.2

Wallahu a’lam.


  1. Lihat Al-Abhari, Mughni Ath-Thullab, (Damaskus: Dar Al-Fikr’, 2003), hlm. 26-27. ↩︎

  2. Lihat Ibn Hisyam, Syarh Qathr An-Nada, (Kairo: Dar Ath-Thalai’, 2009), hlm. 31-32. ↩︎

Teuku Reza Pahlevi